Lewati ke konten
← Kembali ke beranda

Bab 1 · 6 menit baca

Hari Aku Sadar Ada yang Berbeda

Itu hari ketika saya pertama kali menonton anak saya bermain dengan tetangga, dari balik jeruji pagar. Tetangga perempuan kami punya dua anak laki-laki, umur hampir sama dengan putra saya. Mereka bermain petak umpet di taman kecil. Anak-anak tetangga duduk, menghitung, menunggu giliran dengan sabar. Mereka tahu aturan. Mereka tahu berbisik. Mereka tahu kapan harus berhenti tertawa dan mulai serius.

Anak saya? Ia keluar dari persembunyian lima kali sebelum hitungan mereka selesai. Ia tertawa terlalu keras sampai seorang ibu di rumah seberang menoleh. Ia lupa aturannya, tiba-tiba mengusul perubahan, bangga sekali dengan idenya sendiri. Tetangga saya tersenyum sopan dan berkata, “Dia aktif, ya.”

Aku tahu senyum itu. Aku sering memberikan senyum itu sebelumnya, kepada ibu lain yang anaknya berbeda.

Tapi kali ini aku sedang di pihak yang menerima senyum itu. Dan untuk pertama kali, aku mengerti apa rasa di balik senyum itu.

Menunggu di Gerbang
Menunggu di Gerbang

Bukan Anak yang Sama dengan Anak di Buku

Sebelum punya anak, saya membayangkan akan menjadi ibu seperti apa. Saya membaca buku-buku parenting. Saya tahu istilah-istilahnya. Saya pikir saya sudah siap.

Lalu anak saya lahir, dan perlahan saya sadar. Ia tidak membaca buku yang sama dengan saya.

Ia tidak bisa duduk diam saat dibacakan cerita. Ia ingin membalik halaman, memanjat sofa, lalu kembali, lalu pergi lagi. Di taman bermain, ia tidak mengantre. Di meja makan, tubuhnya seperti punya mesin sendiri yang tidak ada tombol mati. Ia kehilangan barang. Ia lupa instruksi yang baru saja saya ucapkan tiga detik lalu. Ia menangis lebih besar, tertawa lebih keras, bergerak lebih banyak.

Dan setiap hari, dengan halus, dunia mengirimkan pesan yang sama kepada saya. Kamu pasti salah mendidiknya.

Komentar itu datang dari mana-mana. Dari mertua: “Anak zaman dulu tidak begini.” Dari tetangga: “Mungkin kurang tegas.” Dari dalam kepala saya sendiri, yang paling kejam dari semuanya: ibu macam apa kamu ini.

Bisikan Lembut

Jika Anda sedang membaca ini sambil menahan sesuatu di dada, berhenti sebentar. Tarik napas. Anak Anda berperilaku seperti itu bukan karena Anda gagal, kok. Dan kalau tidak ada yang pernah mengatakannya kepada Anda hari ini: Anda sudah bekerja jauh lebih keras daripada yang orang lain lihat.

Kata yang Mengubah Segalanya

Saya tidak ingat persis kapan pertama kali mendengar kata itu dengan serius. Mungkin dari seorang guru. Mungkin dari artikel yang saya baca jam dua pagi sambil anak akhirnya tertidur di sebelah saya. ADHD. Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder. Di Indonesia kadang disebut GPPH, Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas.

Reaksi pertama saya bukan lega. Reaksi pertama saya adalah menolak. Saya tidak ingin anak saya “punya label”. Saya takut kata itu akan menempel di punggungnya seumur hidup. Saya pikir, kalau saya cukup sabar, cukup konsisten, cukup... cukup, semuanya akan menjadi normal.

Butuh waktu bagi saya untuk mengerti satu hal sederhana yang sekarang ingin saya berikan kepada Anda lebih cepat daripada saya dulu menerimanya.

“Memahami bukan berarti memberi label. Memahami berarti akhirnya kita tahu sedang berbicara dengan siapa.”

Anak saya tidak berubah pada hari saya mengerti tentang ADHD. Ia anak yang sama. Yang berubah adalah cara saya melihatnya. Saya berhenti melihat “anak yang sengaja sulit” dan mulai melihat “anak yang otaknya bekerja dengan cara berbeda, dan sedang berusaha sangat keras di dunia yang tidak dirancang untuknya”.

Perbedaan dua cara pandang itu adalah perbedaan antara rumah yang penuh pertengkaran dan rumah yang penuh pengertian. Saya tidak melebih-lebihkan.

Beberapa waktu setelah itu, saya menyadari satu hal lagi yang tidak saya duga. Pola yang baru saya pelajari pada anak saya, pelan-pelan terasa familiar di tempat lain. Suami saya bukan tipe ramai seperti anak kami. Ia justru pendiam dari luar. Tapi di dalam kepalanya, ada keramaian yang baru sekarang saya pahami. Pikiran yang berputar tanpa henti, niat yang sulit diubah jadi langkah, dan rutinitas pekerjaan yang ia rebut tiap hari dengan tenaga yang tidak terlihat oleh siapa pun, termasuk oleh dirinya sendiri.

Saya tidak menulis ini untuk mendiagnosis siapa pun. Diagnosis adalah pekerjaan profesional. Saya menulisnya karena Anda mungkin akan menemukan hal yang sama saat memahami anak Anda. ADHD sering ditemukan dua kali di rumah yang sama. Itu bukan kebetulan, dan itu bukan kesalahan siapa-siapa. Itu cara faktor keturunan bekerja.

Dua Cara Melihat
Dua Cara Melihat

Tentang Rasa Bersalah yang Tidak Pernah Diundang

Mari kita bicarakan hal yang jarang ditulis di buku. Rasa bersalah.

Hampir setiap ibu anak ADHD yang pernah saya temui menyimpan versi rasa bersalahnya sendiri. Bersalah karena pernah membentak. Bersalah karena diam-diam merasa lelah menjadi ibu. Bersalah karena sempat iri pada ibu lain yang harinya terlihat lebih mudah. Bersalah karena bertanya-tanya, “apakah ini karena sesuatu yang saya lakukan saat hamil?”

Maka izinkan saya menuliskan ini sejelas mungkin, supaya bisa Anda baca ulang kapan pun Anda membutuhkannya. ADHD bukan disebabkan oleh pola asuh. Bukan karena Anda terlalu sering memberi gawai. Bukan karena Anda bekerja. Bukan karena Anda kurang berdoa. Penelitian selama puluhan tahun menunjukkan ADHD sangat erat kaitannya dengan faktor genetik dan cara kerja otak. Bukan dengan cinta yang kurang atau kesalahan seorang ibu.

Rasa bersalah itu datang bukan karena Anda benar-benar bersalah. Ia datang karena Anda peduli begitu dalam. Ibu yang tidak peduli tidak akan membaca buku seperti ini sampai halaman kelima.

+ Catatan Kecil

Di Indonesia, banyak anak ADHD terlambat dikenali karena gejalanya sering disalahartikan sebagai “anak bandel” atau “anak yang kurang diajari sopan santun”. Keterlambatan ini bukan kesalahan orang tua. Ini soal kesadaran yang memang masih bertumbuh di masyarakat kita. Anda termasuk yang lebih awal sadar. Itu hal baik.

Napas Pertama yang Terasa Lega

Saya ingin jujur. Tidak ada satu momen ajaib di mana semuanya tiba-tiba membaik. Bukan begitu cara kerjanya. Tapi ada satu momen ketika saya merasakan napas yang berbeda. Napas yang lebih dalam, yang terasa seperti meletakkan tas ransel berat yang sudah terlalu lama saya pikul di bahu.

Momen itu datang ketika saya berhenti mencoba membuat anak saya menjadi anak yang berbeda, dan mulai bertanya: “Apa yang anak ini butuhkan dariku, hari ini, supaya harinya sedikit lebih mudah?”

Pertanyaan itu kecil. Tapi ia mengubah arah. Karena pertanyaan “kenapa anak ini tidak bisa biasa saja” tidak punya jawaban yang berguna. Ia hanya melahirkan rasa lelah. Sedangkan pertanyaan “apa yang ia butuhkan” selalu punya jawaban, dan jawabannya selalu bisa dikerjakan.

Buku ini, pada dasarnya, adalah kumpulan jawaban atas pertanyaan kedua itu. Dikumpulkan pelan-pelan, dari hari-hari yang berantakan, dari percobaan yang gagal, dari hal-hal kecil yang ternyata berhasil.

“Anak kita tidak butuh ibu yang sempurna. Ia butuh ibu yang mengerti, dan yang tidak menyerah memahaminya.”

Apa yang Akan Kita Lewati Bersama

Sebelum kita melangkah ke bab berikutnya, saya ingin Anda tahu bentuk perjalanan ini supaya tidak terasa menakutkan.

Di Bagian Satu, kita akan berkenalan dulu. Dengan ADHD, dan dengan cara kerja otak anak kita. Bukan dengan bahasa kedokteran yang membuat pusing, tapi dengan bahasa yang bisa dipakai sambil menyeduh teh.

Di Bagian Dua, kita masuk ke dapur dan ruang keluarga. Pagi yang kacau, urusan PR, ledakan emosi, dan malam yang sulit. Ini bagian paling praktis.

Di Bagian Tiga, kita keluar rumah. Menghadapi sekolah dan keluarga besar, dua dunia yang sering terasa seperti ujian.

Dan di Bagian Empat, kita akan bicara tentang Anda. Bukan sebagai ibu, tapi sebagai manusia. Karena Anda penting, dan bab itu bukan bab tambahan. Ia bab yang sama pentingnya dengan semua bab lain.

Coba Ini Besok

Besok, pilih satu momen kecil bersama anak Anda. Saat menyuapi, saat di mobil, saat sebelum tidur. Selama momen itu, jangan perbaiki apa pun. Jangan ajari apa pun. Hanya perhatikan dia, dan temukan satu hal yang Anda sukai dari caranya menjadi dirinya. Simpan hal itu. Kita akan sering kembali ke sana.

Momen Kecil
Momen Kecil

Anda tidak sedang memulai perjalanan ini sendirian. Saya sudah melewati lorong yang mungkin sedang Anda lewati sekarang, dan saya menulis buku ini sambil membayangkan sedang menggenggam tangan Anda di dalamnya.

Mari kita lanjut. Pelan-pelan saja.

✺ ✺ ✺

Isi buku “Bukan Anak Nakal” dilindungi hak cipta dan tidak tersedia untuk dicetak. Silakan baca di akun Anda — akses web Anda berlaku selamanya.

Yang menanti di Bab 2

Bab 2 — Memahami ADHD Tanpa Bahasa Rumit

Selama bertahun-tahun, saya mengira saya tahu seperti apa anak ADHD itu. Bayangan di kepala saya selalu sama: anak laki-laki yang berlari ke sana kemari, memanjat apa saja, tidak bisa duduk diam barang semenit. Anak yang membuat ruangan terasa penuh hanya dengan kehadirannya.

Ingin melanjutkan perjalanan ini?

Bab 1 baru permulaan. Sembilan bab berikutnya membahas langkah praktis yang bisa Anda coba bersama anak — plus worksheet interaktif dan komunitas orang tua.